Tentang Lakon Musuh Politik

Perjuangan melawan lupa. Inilah dorongan yang paling kuat ketika memilih lakon The Game of Chess karya Kenneth Saywer Goodman, yang ditulis pada tahun 1912 di Amerika, namun persoalan dan peristiwa yang diangkat di dalamnya mengingatkan pada suatu masa dalam sejarah negeri kita. Di Indonesia, lakon ini sendiri terbilang begitu populer lewat terjemahan yang dilakukan oleh Rendra, yang bertajuk “Lawan Catur”.

Pada lakon yang telah diadaptasi oleh Pedje ini dikisahkan tentang seorang aktivis radikal, Harry Mandera, yang mengalami sindroma ketidaksabaran revolusioner, sehingga punya keinginan kuat untuk membunuh Jenderal Alex Dursina, yang dianggap sebagai tokoh paling kejam, licik, dan berpengaruh dalam pemerintahan seorang despot. Namun, niatnya itu terendus oleh Jenderal Alex Dursina, sehingga Harry Mandera diculik oleh kaki tangan sang Jenderal.

Seperti halnya banyak para penguasa di berbagai negara, Jenderal Alex Dursina mengalami sindroma megalomania—yang menurut Sigmund Freud merupakan narsisistis tingkat kedua—sindroma yang membuat para pengidapnya merasa paling hebat, paling pintar, paling berkuasa, paling kuat, paling cemerlang…. Di sisi lain, sindroma ini juga membuat Jenderal Alex Dursina terperangkap ketakutan: takut dikalahkan, takut dianggap lemah, takut dianggap bodoh, takut dianggap lamban…. Apalagi, ia juga merasa banyak pihak telah meragukan kemampuan dan reputasinya sebagai jenderal yang kaya pengalaman, yang dengan kecemerlangan otaknya dan loyalitasnya mampu mempertahankan kekuasaan sang despot, walaupun dengan menghalalkan segala cara.

Untuk membuktikan kehebatannya dan menepis semua keraguan tentang dirinya, Jenderal Alex Dursina merencanakan suatu zero sum game antara dirinya dan Harry, suatu permainan yang hanya menyisakan satu orang saja sebagai pemenang yang bisa keluar hidup-hidup dan selamat. Akan berhasilkah Jenderal Alex Dursina mewujudkan rencananya?

Lakon ini diadaptasi langsung oleh Pedje dari teks yang beredar di internet dalam bahasa Inggris. Terjemahan “Lawan Catur” dibaca sebagai bahan perbandingan. Adaptasi yang dilakukan sebatas penambahan sedikit materi persoalan, sedikit sekali perubahan alur, dan penggantian nama-nama tokoh, agar lakon ini bisa terasa lebih aktual, meski latar waktu dan latar tempat tidak dibuat secara khusus.


Rencananya, pentas perdana Teater Pohon ini akan digelar dalam perhelatan Festival Teater Jakarta XXXIX Tingkat Wilayah Jakarta Barat pada hari Sabtu, 23 Juli 2011, pukul 20.00, di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Barat, Jalan dr. Nurdin IV No. 1, Grogol.

Selamat menyaksikan.

Tidak ada komentar:

© Teater Pohon. Diberdayakan oleh Blogger.